AHM Dituding Anti Kritik, Sejumlah Elemen Mahasiswa akan Mengadu ke Astra Internasional

oleh -35.237 views

JAKARTA – Sejumlah elemen dari
Mahasiswa Milenial Indonesia (MMI), Jaringan Muda Muslim Jayakarta (JMMJ), Jaringan Aktivis Mahasiswa Indonesia (JAMI) ), dan Aktivis Corong Rakyat (ACR) mengutuk keras sikap PT Astra Honda Motor Sunter lantaran mengusir Gerakan Mahasiswa Nasional saat hendak menggelar aksi unjuk rasa di lokasi tersebut, di Sunter, Jakarta Utara, Rabu (10/7/2019) lalu.

Peristiwa itu berawal dari Gerakan Mahasiswa Nasional hendak melakukan aksi protes terhadap Astra Honda Motor (AHM) lantaran diduga melakukan tindak kartel bersama PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM). Kedua perusahaan tersebut diduga bersekongkol dalam penetapan harga skuter matic 110 cc – 125 cc. Akibatnya, Yamaha didenda Rp 25 miliar dan Honda didenda Rp 22,5 miliar.

“Saat teman-teman kami dari Gerakan Mahasiswa Nasional hendak melakukan aksi tiba-tiba dihadang dan diusir secara paksa dan arogan oleh orang-orang berambut cepak. Itu adalah tindakan premanisme mirip orde baru,” kata Fahrizal, salah satu perwakilan elemen, mahasiswa saat jumpa pers di Omah Kopi, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (12/7/2019).

Menurut Fahrizal, sikap AHM dinilai sangat anti kritik bahkan sedang membangun kembali budaya bak orde baru dengan menolak kritik lewat tangan premanisme dan sikap arogan.

“Tindakan PT Astra ini sangat bertolak belakang dengan semangat demokrasi. Menggunakan tangan preman itu model orde baru,” tuturnya.

Fakrizal menambahkan, pihaknya sengaja memindahkan lokasi konferensi pers yang sebelumnya di rencanakan di Bakoel Koffie. Lantaran adanya gerak-gerik mencurigakan diduga diperintahkan untuk memantau konferensi pers para mahasiswa.

“Sengaja kami lakukan karena di lokasi Bakoel Koffie gerak-gerik kita sudah dibuntuti. Makanya hanya wartawan saja yang kami beritahu lokasi pemindahannya. Kami dibuntuti seperti maling saja, dan gak lebih gaya-gaya orde baru,” sebutnya.

Untuk diketahui, dalam proses investigasi selama dua tahun, terdapat beberapa bukti yang menguatkan dugaan tindak kartel kedua perusahaan tersebut, yang menyebabkan konsumen membayar lebih mahal. Dari sini, Honda dan Yamaha juga didesak mengembalikan selisih uang konsumen.

“Rakyat selaku konsumen kan merasa dirugikan, kami hadir aksi kemarin hanya ingin meminta konfirmasi kepada elit AHM. Tapi malah diusir, sepertinya antikritik anti demokrasi. Kita datang baik-baik sudah ada izin aksi. Kan kita hanya ingin dengar klarifikasi secara langsung. Jangan rakyat selaku konsumen dikorbankan,” bebernya.

Dia menyayangkan terkait perlakuan perusahaan otomotif terbesar di Indonesia itu. Katanya, etikanya tidak ada disaat pihaknya ingin menyampaikan aspirasi.

“Rakyat atau konsumen rugi besar jika ada persekongkolan harga. Ternyata tidak hanya skors bola saja diatur-atur, tapi penetapan harga motor juga diatur. Miris melihatnya,” tambah dia.

Mereka meminta AHM terbuka jika merasa tidak bersalah sebaiknya dijelaskan secara rinci oleh elit petingginya kepada masyarakat. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut.

“Rakyat menunggu keterbukaan perusahaan besar ini. Jika tidak bersalah sebaiknya klarifikasi, kami justru ingin memberikan panggung,” katanya.

Lebih jauh, massa dari berbagai elemen itu rencana akan turun gunung kembali untuk melaporkan permasalahan tersebut ke pihak Menara Astra dan Astra Internasional terkait tindakan pihak AHM saat massa Gerakan Nasional Mahasiswa menyambanginya.

“Dalam waktu dekat kami akan sambangi Menara Astra dan Astra Internasional. Kami akan mengadukan atas arogansi orang-orang suruhan AHM. Zaman sudah berubah, bukan lagi pembungkaman aspirasi tapi demokrasi. Jangan pakai cara-cara preman,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *