Data Corona Hancur – Hancuran.!! GPK RI Minta Kabaintelkam Polri yang Baru Harus Peka dan Segera Turun Gunung

oleh -180.851 views

Tribunaktivis.com – Penyaluran data Bansos masih menyisakan persoalan saat ini. Gerakan Pemerhati Kepolisian Republik Indonesia (GPK-RI) menemukan bahwa data bansos yang menjadi perhatian masyarakat Indonesia banyak yang ngawur. Dan Pemerintah mengakui hal tersebut.

Ketua GPK-RI Abdullah Kelrey meminta kepada Kabaintelkam Polri Irjen Pol Ryco Amelza Dahniel untuk turun gunung menyelesaikan polemik data Bansos di tengah masyarakat yang hancur-hancuran. Sebab, kata pria yang akrab disapa Rey ini, jika masyarakat yang tidak kebagian Bansos dan kelaparan maka bisa jadi orang marah.

“Heran, kenapa data Bansos kok hancur-hancuran begitu ya. Ini bahaya, rakyat lapar bisa jadi orang marah. Mengerikan lho, Kabaintelkam Polri yang baru ini tantangan anda saat ini. Saatnya turun gunung,” tegas Kelrey, dalam pesan rilisnya hari ini.

Lebih lanjut, Kelrey mengatakan buruknya data Bansos ini karena tidak peka nya pemerintah baik Pusat dan Daerah untuk melihat dampak nyata masyarakat yang terdampak corona dan itu tidak dimasukkan dalam data penerima Bansos. Ditambah lagi, katanya, menurut data KPK bahwa proses pengadaan pemberian Bansos ke masyarakat beresiko korupsi paling tinggi.

“Intelijen Polri harus bisa menganalisanya akibat data Bansos yang berantakan ini. Belum lagi dampak lain yang terjadi gara-gara corona, salah satunya virus PHK yang lebih mengerikan,” sambung Kelrey.

Lebih jauh, Kelrey berpesan kepada Kabaintelkam Polri yang baru agar bisa memapping fenomena tersebut dan dampak yang bakal di timbulkan. Makanya, perlu dilakukan aksi nyata untuk melakukan deteksi dini dengan meredam gejolak pada masyarakat yang saat ini sedang lapar. Karena, efeknya bisa mengerikan dan tidak menutup kemungkinan aksi kejahatan pun tak bisa di bendung.

“Orang lapar dan bakal marah jangan dipandang sebelah mata. Apalagi virus PHK yang lebih mengerikan ini juga terjadi. Belum lagi para perantau yang masih di Kota Besar ini, mereka belum termonitor oleh pemerintah. Saran saya, lakukan aksi nyata turun gunung, karena banyak rakyat sudah tak punya penghasilan dan orang lapar biasanya gampang marah, stress hingga depresi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *