Wisudawan/i UTA 45 Jakarta Menyayangkan Pihak Kampus Yang Mengancam Mencabut Gelar Hingga dipersulit Secara Akademik

oleh -19.844 views

Jakarta – Satu per satu para wisudawan/i UTA’45 Jakarta setelah sehari sebelumnya melakukan wisuda online mulai mendatangi kampus untuk mengambil ijazah yang belum diterima, beberapa wisudawan/i yang baru mengambil ijazah pada hari tersebut memang baru memiliki waktu untuk ke kampus, selasa (29/07/2020)

Dikarenakan sebelum digelarnya wisuda online, telah diberitahukan bahwa ijazah dan keperluan wisuda akan dikirimkan lewat jasa pengiriman, namun ternyata belum semua dikirimkan oleh pihak kampus, dan beberapa wisudawan/i yang akhirnya memutuskan untuk mengambil pada hari tersebut diberikan pernyataan bahwa ijazah untuk sementara waktu ditahan kampus.

Alih-alih, para wisudawan/i justru dituntut pertanyaan balik mengenai alasan mereka tidak mengambil ijazah dari sebelum-sebelumnya
“Saat saya menuntut ijazah saya, alasannya kampus sedang melakukan tracking social media wisudawan yang katanya telah mencemarkan nama baik Rektor. Makanya sementara ditahan dulu, yang ketahuan mencemarkan ijazahnya akan diberikan namun dengan syarat setelah melakukan klarifikasi di media sosial.

Tapi untuk yang ijazahnya sudah diterima, akan dilakukan pencabutan gelar akademik ke pihak Dikti. Saat saya tanya apakah bisa seperti itu, kata Wakil Rektornya bisa. Jadi saat ini saya pasrah menunggu ijazah dulu meskipun sangat butuh”, ujar Dewi yang merupakan salah satu wisudawan UTA’45 Jakarta.

Hal ini nampaknya bentuk reaksi kampus atas tuntutan wisudawan/i UTA’45 yang pada hari senin (27/7) melakukan audiensi ke Kemdikbud untuk menyampaikan tuntutan keberatan atas anggaran wisuda online yang tidak ada transparansi dan tidak ada pengembalian 50% dana.

Mengingat jumlah pengeluaran anggaran wisuda online harusnya tidak sama dengan wisuda offline, Selain itu pada hari yang sama, para wisudawan juga melakukan aksi protes serentak di media sosial terkait tuntutan pengembalian 50% dana wisuda mereka dan dugaan penyalahgunaan dana mereka pihak kampus.

Namun nampaknya unggahan tersebut yang membuat pihak kampus meradang dan melakukan penahanan ijazah wisudawan hingga ancaman pencabutan gelar ke Dikti.
“Kami juga menerima laporan bahwa di beberapa grup whatsapp fakultas, para wisudawan mengalami pengancaman oleh Kaprodi dan Dekan mereka.

Terang-terangan para Kaprodi dan Dekan di grup tersebut melayangkan ancaman untuk tidak main-main dengan kampus dengan unggahan serentak kami selama dua hari, Sampai diancam untuk dipersulit secara akademik hingga pencabutan gelar akademik wisudawan sangat disayangkan sekali oleh kami”, ujar Nanda Rizka, ketua perwakilan wisudawan/i angkatan 2014.

Dengan adanya kejadian tersebut, seluruh wisudawan/i merasa sangat kecewa dengan sikap kampus. Karena bagaimanapun, ijazah adalah hak para wisudawan yang telah lulus. Selain itu, ancaman pencabutan gelar ke Dikti juga rasanya perlu dipertimbangkan. Karena terkait dengan pencabutan gelar akademik seseorang diakibatkan keterlibatannya pada kasus berat.

Sedangkan para wisudawan/i UTA’45 menuntut haknya atas dana wisuda online yang tidak masuk akal. Serta perlawanan yang dilakukan juga merupakan sebuah tindakan untuk mencari keadilan atas hak yang harusnya terpenuhi. Maka dari itu, sangat diperlukan pertimbangak kembali atas ancaman yang telah dilayangkan kampus terhadap para wisudawan/i.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *