Memaknai Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2020

oleh -8.569 views

Oleh: Ridwan Syah
(Ketua Komisi PAO PB HMI MPO 2020-2022)

Kondisi generasi muda setelah Reformasi (yang ditandai jatuhnya rezim Orde baru), bisa dikatakan mengalami kehilangan peran dan kepercayaan dirinya dalam melihat kondisi bangsa hari ini.

Minimnya ide-ide dan gagasan yang di aktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan menata ulang cita-cita reformasi tidak terlepas dari kepekaan pemuda dalam merumuskan kerangka berfikir yang sama terhadap “musuh bangsa” hari ini.

Paling tidak persoalan nyata seperti Oligarki kekuasaan, Korupsi, Kemiskinan, Pengangguran, sehingga berdampak nyata terhadap merosotnya moralitas generasi muda. Maupun isu-isu kekinian. Sejatinya beberapa persoalan ini yang menjadi musuh bersama.

Dalam kondisi seperti ini patut kita tanyakan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hemat saya, pertanyaan ini layak di kaji bersama secara mendalam sehingga menghasilkan suatu formulasi baru dalam gerakan pemuda.

Persinggungan pemuda di pusaran politik maupun kekuasaan, kuatnya “hegemoni” para aktifis Senior yang sebagian besar punya posisi strategis di negeri ini merupakan suatu hal yang tidak bisa kita nafikan berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap gerakan pemuda saat ini.

Euforia hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2020 yang diperingati seantero Negeri pada hari ini, bisa kita katakan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana bangsa kita sedang dilanda musibah pandemi Covid-19. Namun, jika kita lihat di media-media Nasional meskipun diperingati secara sederhana tidak menyurutkan semangat rakyat.

Dalam rentang usia 75 tahun bangsa Indonesia. Harapan terbesar kita, dimana peristiwa hari ini merupakan titik balik kebangkitan pemuda. Inilah yang menjadi tantangan pemuda sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa.

Disisi lain, penjajahan secara fisik tentu kita sudah tidak mengalaminya. Namun, kalau boleh dibilang “penjajahan” dalam aspek lain seperti ekonomi, pendidikan dan kebudayaan maupun pertahanan dan keamanan, semua kita sepakat kedaulatan dan kemandirian dalam sektor ini masih jauh.

Merdeka dalam pikiran, dalam artian yang luas merupakan instrument awal dalam menghilangkan sikap inferior. Inilah langkah awal yang semestinya dialami oleh para Pemuda.

Pendidikan dan pembinaan yang tepat terhadap generasi muda merupakan suatu hal yang tidak bisa disepelekan. Sehingga tanggung jawabnya dapat dimanifestasikan dalam gerakan moral maupun gerakan-gerakan pembaharuan lainnya dalam bingkai ke-Indonesiaan yang original.

Membangun Indonesia yang berkemajuan, tidak luput dari peran aktif setiap komponen pemuda yang memiliki visi kebangsaan yang kuat. Tentu ini merupakan “pekerjaan rumah” bagi para pemuda hari ini, dalam bersinergi menuntaskan cita-cita para pendiri Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *