Ribut Kata Anjay, Mas Gie : Komnas Perlindungan Anak Kontra-produktif

oleh -20.295 views

Jakarta – Beberapa hari yang lalu sontak jagat media dikagetkan dengan keterangan pers Komisi Nasional Perlindungan Anak menyoal tentang himbauan penghentian penggunaan kata “ANJAY”, bahkan menjadi salah satu trending topik di tweeter sampai kepada kurang lebih 120 ribu tweet.

Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai Lembaga pelaksana dari perkumpulan Lembaga perlindungan anak (LPA) yang didirikan oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Sosial No. 81/HUK/ pada tahun 1977 tentang pembantukan LPA yang kemudian diberikan mandat, tugas dan fungsi untuk memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia.

Pers Rilis yang terbit tertanggal pada 29 Agustus 2020 tersebut mendapat perhatian khusus dari Yogi Prasetio selaku sarjana lulusan bahasa tersebut, Ia menial adanya beberapa hal yang kontra-produktif perihal pers rilis tersebut. “ada beberapa poin yang kemudian gagal dipahami oleh Komnas Perlindungan Anak tersebut”. Imbuhnya.
“dalam istilah sosiolinguistik kata anjay sah-sah saja dipergunakan dalam interaksi sosial, selama komunikator satu sama lain tidak tersinggung dalam interaksi, karena bagaimanapun antara kata dan lambang bahasa merupakan satu bentuk kesepakatan antar komunikator”. Tandasnya.
Hal itu ia sampaikan pada awak media via telepon beberapa saat setelah ia mengetahui bahwa warganet ramai menyoal masalah ini pada 01/09/2020.

Yogi Prasetio yang juga merupakan salah satu fungsionaris di Pengurus Besar HMI-MPO menyampaikan kekecewaanya kepada Lembaga Swasta yang dipimpin oleh saudara Arist Merdeka Sirait yang dianggap terlalu latah dan serampangan dalam mengelola permasalahan tersebut yang menuai kegaduhan di sosial media.

Yogi menekankan, “seharusnya Komnas Perlindungan Anak cermat dalam mengelola persoalan ini, harusnya konsultasi terlebih dahulu kepada para ahli bahasa yang memang kompeten dibidangnya”. Tambahnya.

Dalam hal lain Yogi-pun mempertanyakan tugas dan fungsi utuhnya Komnas Perlindungan Anak tersebut. “bukankah tugas dan fungsi Komnas Perlindungan Anak bukan lebih kepada mempersoalkan struktur dan lambang bahasa yang dipergunakan dalam interaksi sosial, tapi lebih kepada memposisikan diri ketika ada “anak” yang tidak terpenuhi hak-haknya sebagai warga negara dan itu lebih substantif hemat saya, karena bagaimanapun di tengah kondisi pandemi saat ini saya menduga banyak anak-anak yang secara nasional tidak terpenuhi hak-haknya sebagai warga negara, baik itu hak pendidikannya, hak kebebasan berekspresinya dan hak-hak anak lainnya yang harus disikapi secara general oleh Komisi Perlindungan Anak”. Tandasnya.

Diakhir keterangannya dalam via telepon, Yogi Prasetio atau yang akrab disapa Mas Gie meminta kepada semua stake holder selalu mengedepankan azas rasionalitas dalam mengurai dan memecah suatu persoalan publik, agar tidak terjadi perdebatan yang tidak substantif di tengah pandemi akhir-akhir ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *